
Kabupaten Bandung – Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Humaira Zahrotun Noor, mendorong pelatihan kerja mandiri menjadi langkah konkret untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, memperluas kesempatan kerja, dan melahirkan wirausaha baru.
Hal tersebut disampaikan Humaira saat menghadiri pembukaan Pelatihan Kerja Mandiri melalui Mobile Training Unit (MTU) Batch XVI di Aula Rumah Aspirasi, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Senin (12 Oktober 2026).
Menurut Humaira, pelatihan keterampilan menjadi salah satu upaya penting untuk menjawab persoalan ketenagakerjaan. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kesempatan memperoleh pekerjaan, tetapi juga keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan penghasilan, membangun usaha, dan mencapai kemandirian ekonomi.
“Pelatihan seperti ini penting karena masyarakat tidak hanya membutuhkan kesempatan kerja, tetapi juga keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk meningkatkan penghasilan, membangun usaha, dan menciptakan kemandirian ekonomi,” ujarnya.
Selanjutnya, Ia juga menyoroti persoalan pengangguran di Jawa Barat yang masih membutuhkan perhatian bersama. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat yang disampaikan dalam sambutannya, tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 tercatat sebesar 6,61 persen, dengan jumlah penganggur sekitar 1,79 juta orang.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu dijawab melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja agar masyarakat mampu beradaptasi dengan kebutuhan dunia usaha sekaligus mengembangkan potensi ekonominya secara mandiri.
Karenanya ia menilai, kehadiran MTU menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pelatihan keterampilan hingga tingkat kecamatan dan desa. Dengan demikian, masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar dan meningkatkan kompetensi tanpa harus terkendala jarak.
Pada pelatihan Batch XVI tersebut, peserta mendapatkan kesempatan mengembangkan keterampilan di bidang tata boga dan barista. Kedua bidang ini dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan, baik sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun sebagai modal merintis usaha mandiri.
Selain daripada itupun, Humaira menjelaskan, keterampilan tata boga dapat dikembangkan menjadi usaha makanan rumahan, katering, kue, hingga produk kuliner khas daerah. Sementara itu, keterampilan barista dapat menjadi bekal untuk bekerja di kedai kopi dan kafe, sekaligus membuka peluang usaha minuman secara mandiri.
“Yang menarik, membangun usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Kita bisa memulainya dari rumah, dari lingkungan sekitar, dan dari produk sederhana yang memang dibutuhkan masyarakat,” tuturnya.
Ia juga mendorong peserta agar tidak berhenti pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi mulai mempelajari aspek pengelolaan usaha, mulai dari menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, menjaga kualitas produk, hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran.
“Keterampilan semestinya disertai kreativitas dan pengelolaan yang baik dapat menjadi sumber penghasilan berkelanjutan. Bahkan, usaha yang berkembang berpotensi membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat di sekitarnya,” tambah Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut.
Meski demikian, Humaira mengingatkan bahwa keberhasilan program pelatihan tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan atau sertifikat yang diperoleh. Hal yang lebih penting adalah dampak setelah pelatihan, seperti terserapnya peserta ke dunia kerja, tumbuhnya usaha baru, dan meningkatnya pendapatan keluarga.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pendampingan lanjutan bagi peserta, baik yang ingin memasuki dunia kerja maupun yang berencana membangun usaha. Akses informasi lowongan kerja, pemasaran, dan pembiayaan yang sesuai dinilai perlu diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, lembaga pelatihan, dunia usaha, perbankan, dan masyarakat.
“Keberhasilan pelatihan tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang hadir atau sertifikat yang diberikan, tetapi juga dari apa yang terjadi setelahnya: apakah peserta memperoleh pekerjaan, apakah usaha baru mulai tumbuh, dan apakah keterampilan yang diperoleh membantu meningkatkan pendapatan keluarga,” ungkapnya.
Sebagai anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, Humaira menegaskan bahwa peningkatan kualitas tenaga kerja harus menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program pelatihan perlu diarahkan agar tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi warga.
Bahkan Ia juga mengajak seluruh peserta menjadikan pelatihan tersebut sebagai titik awal untuk mengembangkan keterampilan dan merintis usaha. Peserta diharapkan mampu menyusun rencana konkret, mulai mempraktikkan keterampilan yang diperoleh, serta berani memperkenalkan hasil karyanya kepada masyarakat.
Pada akhir sambutannya, Humaira berharap Pelatihan Kerja Mandiri melalui MTU Batch XVI dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Kabupaten Bandung, khususnya dalam memperluas kesempatan kerja, meningkatkan keterampilan, dan mendorong tumbuhnya usaha produktif di Jawa Barat.***