Warga Korban Longsor Purwakarta Masih Tinggal di Pengungsian

beritatandas.id, PURWAKARTA – Meskipun cukup berat, menjalani keseharian di tenda pengungsian. Namun, tidak ada pilihan lain bagi ratusan warga Kampung Cirangkong, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta selain bermalam di tenda pengungsian.

Mereka harus tinggal di sana setelah rumah mereka mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah yang terjadi beberapa waktu lalu.

Terlihat raut wajar para korban seakan tidak bisa menutupi kesedihan menghadapi kenyataan begitu berat, rumah rusak dan terpaksa tinggal di tenda pengungsian di lahan kosong tak jauh dari rumah mereka yang hancur.

“Saya tinggal di tenda sudah hampir tiga minggu,” kata salah seorang warga yang tinggal di tenda darurat, Yoyoh, Jumat (5/3/2021).

Ia menambahkan, tinggal di tenda pengungsian bersama keempat anaknya yang usianya tergolong masih belia. Sementara suaminya bekerja mencari nafkah di Ibu Kota Jakarta.

“Ketika rumah rusak saya memberikan kabar sama suami, kemudian pulang, tapi sekarang sudah kembali ke Jakarta lagi buat cari nafkah,” tutur Yoyoh dengan raut wajah yang menunjukkan kesedihan.

Menjalani keseharian di tenda diakuinya cukup berat dan tak pernah terbayangkan sebelumnya jika akan mengalami kondisi seperti ini.

Yoyoh berharap kondisi ini segera berakhir dan bisa kembali menjalani kehidupan normal, tinggal di rumah bersama keluarga.

“Yah mau gimana lagi rumah rusak. Tapi alhamdulilah kalau untuk makan dan minum tidak kekurangan,” tuturanya.

Hal serupa juga diungkapkan korban lain, Sapini yang mengaku tinggal di tenda pengungsian selama dua minggu.

“Sebelumnya saya tinggal di rumah kerabat, tapi sekarang tinggal di sini (tenda pengungsian),” singkat dia.

Sementara itu, berdasarkan data dari pemerintah desa setempat jumlah rumah rusak 120. Dari jumlah tersebut 79 rusak berat 41 rumah rusak ringan.

Adapun jumlah korban sebanyak 532 jiwa dari 150 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut mengungsi 345 jiwa bertahan 187 jiwa.

“Kami berharap Pemkab Purwakarta segera merelokasi semua korban agar tinggal di pengungsian tidak terlalu lama, apalagi sebentar lagi menghadapi bulan ramadan,” ujar Kepala Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru, Yudi Supriyadi.

Bencana pergerakan tanah di kampung berada di bawah kaki Gunung Parang itu menyedot perhatian semua elemen masyarakat. Mereka ikut prihatian dan saling mengulurkan tangan membantu korban.

 

Redaksi

Exit mobile version