
Bandung, beritatandas.id – Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan menyelimuti Dusun Papakserang, Desa Serangmekar, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, pada Sabtu (11/10). Ratusan warga berkumpul untuk melaksanakan tradisi tahunan Selamatan Hajat Lembur yang digelar oleh Paguyuban Tani Papakserang sebagai ungkapan syukur atas hasil panen tahun ini.
Acara yang dimulai sejak pagi itu turut dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh adat, perangkat desa, hingga Muspika Kecamatan Ciparay. Hadir pula anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Humaira Zahrotin Noor, S.I.P., yang mendapatkan sambutan hangat dari warga dan para petani.
Dalam sambutannya, Humaira menyampaikan apresiasi atas semangat gotong royong dan pelestarian budaya masyarakat Serangmekar. Ia menilai, tradisi Hajat Lembur bukan sekadar ritual panen, melainkan simbol rasa syukur dan kekuatan sosial masyarakat pedesaan.
“Di tengah dunia yang serba cepat dan sibuk, masyarakat Desa Serangmekar masih menjaga nilai kebersamaan, masih memelihara adat, dan masih menempatkan rasa syukur sebagai bagian utama dari kehidupan. Itulah kekuatan kita sebagai masyarakat pedesaan, sederhana, tapi kuat dalam persaudaraan,” ujar Humaira dalam sambutannya.
Lebih lanjut, ia menyoroti makna filosofi “Satata Sariksa, Rampak Ragem Rereongan” yang diusung Paguyuban Tani Papakserang. Menurutnya, nilai tersebut menjadi cerminan kehidupan masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi harmoni dan kebersamaan.
“Satata Sariksa mengajarkan kita untuk hidup tertib dan saling menjaga, sementara Rampak Ragem Rereongan mengingatkan agar kita bersatu dalam keberagaman dan terus bergotong royong demi kebaikan bersama,” katanya.
Sebagai wakil rakyat, Humaira juga menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan kesejahteraan petani di Jawa Barat. Ia menilai, para petani bukan sekadar pekerja, melainkan penjaga kehidupan.
“Tanpa petani, kita tidak bisa makan, kita tidak bisa hidup. Karena itu, pemerintah harus hadir untuk memastikan ketersediaan pupuk, akses pelatihan, dan pasar yang adil bagi hasil pertanian,” tegasnya.
Dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur yang mendalam, Hajat Lembur tahun ini menjadi pengingat bahwa tradisi dan nilai-nilai gotong royong tetap hidup di tengah masyarakat, menjadi akar kekuatan sosial yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.***