
Kabupaten Bandung — Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Humaira Zahrotun Noor, S.IP., mengajak para santri untuk terus menjaga tradisi keilmuan dan nilai-nilai akhlak pesantren, sekaligus meningkatkan kemampuan dalam menghadapi perkembangan zaman. Pesan tersebut disampaikan dalam amanatnya sebagai pembina upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pondok Pesantren Sa’adatuddaroin.
Mengusung tema “Santri Metropolitan: Menjaga Tradisi, Membaca Zaman”, Humaira menekankan bahwa santri masa kini harus mampu memadukan kekuatan ilmu agama dan akhlak dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta wawasan yang luas.
Menurutnya, santri metropolitan bukan sekadar santri yang hidup di lingkungan perkotaan atau mengikuti gaya hidup modern, melainkan generasi yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai pesantren sambil mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Santri tidak cukup hanya menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Santri harus mampu menguasai ilmu pengetahuan, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab tanpa meninggalkan tradisi keilmuan serta akhlak yang telah menjadi fondasi pendidikan pesantren,” ujar Humaira dalam amanatnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, dan proses yang berkelanjutan. Di tengah perkembangan teknologi yang serba cepat, para santri diharapkan tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga membangun kemampuan dan karakter melalui proses belajar yang tekun.
Humaira turut menegaskan bahwa keterbukaan terhadap modernitas tidak berarti meninggalkan tradisi pesantren. Menurutnya, fondasi spiritual dan moral yang diperoleh dari pesantren perlu diimbangi dengan wawasan di berbagai bidang, seperti pendidikan, ekonomi, lingkungan, kebudayaan, dan teknologi.
“Tradisi pesantren harus tetap menjadi pegangan, sementara keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan menjadi bekal bagi santri untuk memahami persoalan masyarakat secara lebih luas. Dengan begitu, santri tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Humaira juga mengajak para santri untuk meneladani perjuangan ulama dan santri terdahulu, khususnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui semangat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.
Ia menyampaikan bahwa perjuangan generasi terdahulu perlu dilanjutkan oleh santri masa kini melalui pendidikan, karya, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Humaira, latar belakang pendidikan pesantren tidak seharusnya membatasi cita-cita generasi muda. Para santri memiliki kesempatan untuk berkiprah di berbagai bidang profesi, mulai dari pendidik, peneliti, pengusaha, tenaga profesional, hingga pemimpin masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa ilmu dan keberhasilan yang diraih hendaknya tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain.
“Keberhasilan tidak hanya diukur dari gelar, jabatan, atau kedudukan, tetapi juga dari kemampuan kita menghadirkan kebaikan bagi sesama. Karena itu, jadilah santri yang teguh dalam prinsip, luas dalam wawasan, tekun menjalani proses, dan bertanggung jawab menggunakan ilmunya,” ungkapnya.
Humaira berharap Pondok Pesantren Sa’adatuddaroin terus menjadi tempat lahirnya generasi muda yang berilmu, berakhlak, memiliki kepedulian sosial, serta mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara santri, pengasuh pesantren, keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam mendukung pendidikan pesantren agar mampu mengembangkan potensi generasi muda sekaligus mempertahankan nilai-nilai luhur yang diwariskan para ulama.
Menutup amanatnya, Humaira mengajak seluruh santri menjadikan peringatan Hari Santri Nasional 2026 sebagai momentum untuk memperkuat komitmen dalam menjaga tradisi, membaca perkembangan zaman, dan melanjutkan perjuangan melalui ilmu pengetahuan serta pengabdian nyata.
“Santri hendaknya tidak kehilangan jati diri ketika menghadapi perubahan, tidak kehilangan akhlak ketika meraih keberhasilan, dan tidak melupakan masyarakat ketika mencapai cita-cita. Semoga dari pesantren lahir generasi yang mampu meneruskan perjuangan para ulama dan memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia,” pungkasnya.***