
Karawang, beritatandas.id — Suasana haru dan khidmat menyelimuti kediaman rumah duka di Desa Pucung, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, pada Jumat malam, 7 Agustus 2026. Banyaknya pelayat yang terdiri dari keluarga, tetangga, rekan sesama jurnalis, hingga para seniman dan tokoh masyarakat, berkumpul melantunkan ayat suci Al-Qur’an dan doa bersama dalam peringatan tahlilan hari ketujuh wafatnya almarhum Suhendra Fajar.
Pria yang semasa hidupnya akrab disapa dengan panggilan hangat “Dalang” atau “Fajar” ini berpulang ke Rahmatullah pada Sabtu tanggal 1 Agustus 2026 yang lalu. Kepergian sosok yang dikenal energik dan penuh semangat ini meninggalkan duka yang teramat dalam, terutama bagi ketiga buah hati tercinta yang kini harus melanjutkan kehidupan tanpa kehadiran sang ayah di sisi mereka.
Sejak sore hari, tenda di halaman rumah duka di Desa Pucung, Kecamatan Kotabaru, mulai dipadati oleh para pelayat. Lantunan tahlil dan tahmid bergema mengiringi malam ketujuh kepergian almarhum.
Bagi warga setempat, Fajar bukan sekadar tetangga, melainkan sosok yang dekat dengan siapa saja. Semangat hidupnya yang tinggi dan keramahannya membuat rumah duka tak pernah sepi dari orang-orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir.
Di luar kesehariannya sebagai pribadi yang humoris dan berjiwa sosial tinggi, Fajar mendedikasikan sebagian besar hidupnya di dunia jurnalistik. Pada masanya, ia dikenal sebagai wartawan lapangan yang sangat aktif dan berani dalam menyampaikan berita berdasarkan fakta serta peristiwa nyata.
Kiprahnya melintang luas di dunia pers, dimulai dari media cetak konvensional hingga pengabdian terakhirnya yang tercatat sebagai wartawan di media cetak dan online Demokratis. Bagi rekan-rekan seprofesinya di Kabupaten Karawang dan sekitarnya, Fajar adalah simbol jurnalis yang teguh memegang kode etik dan cinta pada profesinya.
Tidak hanya piawai merangkai kata dan fakta menjadi berita, identitas lain yang melekat kuat pada diri Fajar adalah profesinya sebagai seorang dalang wayang golek yang karismatik. Darah seni dan kecintaannya pada budaya Sunda membawanya sering dipanggil untuk manggung di berbagai hajatan warga hingga acara-acara besar instansi pemerintahan, bahkan melanglang buana ke luar daerah seperti ke Provinsi Banten.
Kapasitasnya sebagai dalang tentu bukan tanpa alasan. Fajar merupakan murid langsung dari maestro pedalangan terkemuka, mendiang Dalang Rd. H. Cecep Supriyadi. Berkat ketekunan dan kepiawaiannya mendalami seni pedalangan, sang maestro memberikan kehormatan (privilege) khusus kepada Fajar untuk menyandang nama besar sang guru di belakang namanya menjadi Supriyadi. Nama tersebut menjadi bukti otentik atas kualitas tinggi yang ia miliki di atas panggung pedalangan.
Tujuh hari sudah berlalu sejak napas terakhirnya dihembuskan pada 1 Agustus 2026. Dari sudut ruang redaksi media hingga panggung pedalangan di berbagai pelosok daerah, nama Suhendra Fajar akan selalu dikenang dengan rasa hormat.
Ia telah menunaikan tugasnya dengan sempurna sebagai pencari fakta yang berdedikasi tinggi dengan penanya, dan sebagai penjaga tradisi leluhur yang menghibur lewat wayang goleknya. (Red)