Muscab Perempuan Bangsa KBB, Humaira: Perempuan Tidak Boleh Sunyi dalam Sejarah dan Ruang Publik

KABUPATEN BANDUNG  — Musyawarah Cabang (Muscab) Perempuan Bangsa Kabupaten Bandung Barat menjadi momentum untuk memperkuat peran perempuan dalam organisasi, kehidupan bermasyarakat, serta ruang pengambilan kebijakan publik.

Dalam momentum tersebut, Humaira Zahrotun Noor menegaskan bahwa perempuan harus memiliki ruang yang setara untuk menyampaikan gagasan, memperjuangkan aspirasi, dan berkontribusi dalam pembangunan.

“Perempuan tidak boleh sunyi dalam sejarah dan ruang publik. Perempuan harus hadir, bersuara, dan mengambil peran dalam menentukan arah perubahan. Kita tidak ingin perempuan hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan,” tegas Humaira.

Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam organisasi politik dan sosial merupakan bagian penting dari upaya memperluas partisipasi masyarakat. Kehadiran perempuan dengan pengalaman, perspektif, dan gagasan yang beragam dapat memperkaya proses perumusan kebijakan agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Ia juga menekankan bahwa penguatan peran perempuan tidak cukup berhenti pada keterwakilan secara formal. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan perempuan memiliki kapasitas, keberanian, serta kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan terlibat secara aktif dalam berbagai ruang strategis.

Melalui Muscab Perempuan Bangsa Kabupaten Bandung Barat, diharapkan lahir semangat baru untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan kualitas kader, serta memperluas kontribusi perempuan dalam menjawab berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.

Humaira berharap Perempuan Bangsa dapat terus menjadi ruang bagi perempuan untuk mengembangkan potensi, membangun solidaritas, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui kerja-kerja nyata.

“Perempuan memiliki hak untuk menentukan arah masa depan, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan bangsa. Karena itu, mari kita pastikan perempuan memiliki ruang untuk tumbuh, berdaya, dan berkontribusi secara nyata,” pungkasnya.

Bagi Humaira, perempuan yang berdaya bukan hanya perempuan yang memiliki kesempatan untuk berbicara, tetapi juga perempuan yang suaranya didengar dan gagasannya turut menjadi bagian dari keputusan publik.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rekomendasi Berita Terkait
Acep Jamaludin Dorong Perbaikan Rusunawa Cigugur Tengah, Target Rampung 2027

Acep Jamaludin Dorong Perbaikan Rusunawa Cigugur Tengah, Target Rampung 2027

PSU Perumahan Klari Bermasalah, Warga Tak Bisa Akses Program Pemda Suci Nurwinda Komitmen Kawal Penyelesaian

PSU Perumahan Klari Bermasalah, Warga Tak Bisa Akses Program Pemda Suci Nurwinda Komitmen Kawal Penyelesaian

Hari Santri 2026, Asep Syamsudin Desak Pemerintah Implementasikan UU Pesantren

Hari Santri 2026, Asep Syamsudin Desak Pemerintah Implementasikan UU Pesantren