Perjuangan Panjang Putri Prajurit Marinir, Citta Pratiwi Nury Raih Gelar S.Ked., Bukti Tekad Menembus Kerasnya Pendidikan Kedokteran

Karawang, beritatandas.id – Perjalanan meraih gelar di dunia kedokteran bukanlah perkara mudah. Pendidikan panjang, tekanan akademik tinggi, serta tuntutan disiplin yang ketat sering kali menjadi “tembok” yang menggugurkan banyak mimpi. Namun bagi Citta Pratiwi Nury, semua rintangan itu justru menjadi bahan bakar untuk terus melangkah.

Pada tahun 2026, Citta resmi meraih gelar akademik S.Ked. (Sarjana Kedokteran) setelah menyelesaikan pendidikan strata satu di Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) Semarang. Gelar tersebut menjadi bukti penguasaan ilmu dasar kedokteran yang merupakan tahapan awal sebelum menempuh pendidikan profesi atau koas, sebagaimana struktur kurikulum pendidikan kedokteran di Indonesia.

Citta bukan berasal dari keluarga dengan kemewahan yang serba tersedia. Ia adalah anak sulung dari seorang prajurit TNI Angkatan Laut Korps Marinir, Nurkenda, yang bersama sang istri Yuyun terus mengawal perjalanan pendidikan putrinya sejak kecil.

Lahir pada September 2004, Citta tumbuh dalam didikan disiplin dan kesederhanaan. Sejak usia dini, kedua orang tuanya menanamkan nilai kerja keras dan keteguhan hati untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin.

“Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT, kami sebagai orang tua, Nurkenda dan Yuyun, mengucapkan Alhamdulillah atas pencapaian putri kami tercinta Citta Pratiwi Nury yang pada tahun 2026 lulus (S1) dengan gelar S.Ked.,” ujar Nurkenda dengan penuh haru, pada Selasa (10/3/2026)

Ia berharap keberhasilan tersebut bukan sekadar gelar akademik, tetapi menjadi langkah awal menuju cita-cita yang lebih besar.

“Semoga keberhasilan ini menjadi awal dari langkah besar untuk melangkah ke jenjang tahap profesi (koas) hingga memperoleh gelar dokter,” pungkasnya.

Perjalanan pendidikan Citta sendiri tidak singkat. Ia harus meninggalkan kenyamanan hidup bersama orang tua demi mengejar cita-cita selama bertahun-tahun. Langkahnya dimulai dari TK Al Murtadho (lulus 2010), kemudian SD Al Murtadho (lulus 2016). Pendidikan menengah pertama ditempuh di SMP Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta (lulus 2019), lalu melanjutkan ke SMA Negeri 1 Purwakarta (lulus 2022).

Setelah itu, Citta memilih jalur pendidikan yang tidak ringan, Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim Semarang. Selama kurang lebih lima tahun menjalani pendidikan yang penuh tekanan akademik, akhirnya pada 2026 ia berhasil menyelesaikan tahap sarjana (S1) menyandang gelar S.Ked.

Keberhasilan ini bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga bukti bahwa anak dari keluarga sederhana, bahkan dari latar belakang militer yang identik dengan kerasnya kehidupan, mampu menembus dunia akademik kedokteran yang dikenal sangat kompetitif.

Namun perjuangan Citta belum selesai. Gelar S.Ked. hanyalah pintu pertama. Jalan panjang masih menunggu di tahap profesi dokter (koas) sebelum ia benar-benar bisa mengabdikan diri sebagai dokter bagi masyarakat.

Di tengah berbagai keluhan tentang mahalnya pendidikan kedokteran dan kerasnya seleksi akademik di Indonesia, kisah Citta menjadi pengingat bahwa mimpi besar masih bisa diraih—selama ada tekad, kerja keras, dan dukungan keluarga yang tidak pernah berhenti percaya. (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rekomendasi Berita Terkait
Sambangi Warga Binaan, Bhabinkamtibmas Polsek Telagasari Sampaikan Himbauan Kamtibmas

Sambangi Warga Binaan, Bhabinkamtibmas Polsek Telagasari Sampaikan Himbauan Kamtibmas

Bhabinkamtibmas Polsek Telagasari Sambangi Warga Binaan dan Sampaikan Himbauan Kamtibmas

Bhabinkamtibmas Polsek Telagasari Sambangi Warga Binaan dan Sampaikan Himbauan Kamtibmas

Bhabinkamtibmas Polsek Telagasari Himbau Warga Waspada Potensi Kenakalan Remaja

Bhabinkamtibmas Polsek Telagasari Himbau Warga Waspada Potensi Kenakalan Remaja