
Karawang, beritatandas.id – Ketua Majelis Komunikasi Alumni Santri Albab Kanciwaringen Cirebon Cabang Karawang, Abdul Aziz mengecam keras pemberitaan atau tayangan salah satu stasiun televisi nasional Trans7 yang dinilai menyudutkan kalangan pesantren, kiai, dan santri.
Dalam video yang beredar, pemberitaan Trans7 dianggap menampilkan narasi negatif yang membentuk citra buruk terhadap pesantren. Hal ini, menurutnya, sangat disayangkan mengingat Trans7 merupakan media nasional yang telah lama berdiri dan seharusnya menjunjung tinggi etika jurnalistik.
“Di dalam pemberitaan itu memang jelas menyudutkan pesantren, para kiai, dan santri. Kami sangat menyayangkan karena pemberitaan seperti itu jauh dari sisi etika jurnalistik, bahkan terkesan tidak profesional,” ujarnya, Selasa (14/10/2025).
Ia menilai, pemberitaan tersebut seolah memiliki misi tertentu untuk membangun framing negatif terhadap lembaga pesantren. Terlebih, dalam waktu dekat bangsa Indonesia akan memperingati Hari Santri Nasional pada 22 Oktober mendatang.
“Ini menjadi pertanda buruk bagi bangsa ini. Masih ada elemen media yang membuat framing buruk terhadap santri dan pesantren, padahal sebentar lagi kita akan memperingati Hari Santri Nasional,” tambahnya.
Atas dasar itu, pihaknya sebagai Ketua Alumni Makom Albab Cabang Karawang menyampaikan dua tuntutan kepada pihak Trans7. Pertama, meminta Trans7 segera mengklarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dalam waktu 1×24 jam kepada seluruh santri dan pesantren di Indonesia.
“Kami minta Trans7 meminta maaf secara terbuka kepada santri se-Indonesia dalam waktu 1×24 jam. Jika tidak dilakukan, kami akan datang bersilaturahmi ke kantor Trans7 di Jakarta bersama ribuan santri dan menggelar salawat di depan kantor Trans7,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pimpinan pusat Makom Albab, PBNU, PWNU Jawa Barat, serta para senior di Jakarta untuk menindaklanjuti langkah-langkah selanjutnya terkait masalah tersebut.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan para pimpinan pusat dan senior untuk menentukan langkah berikutnya. Ini bukan hanya soal pesantren kami, tapi soal marwah santri di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (Lex)