
Bandung – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Lillah Sahrul Mubarok, menyambut baik program beasiswa santri yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan pendidikan pesantren.
Terlebih, anggaran program beasiswa santri di Jawa Barat tersebut sebelumnya hanya senilai Rp 5 miliar, kemudian ditambah menjadi Rp 10 miliar dalam APBD Perubahan 2025. Ia menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan pendidikan yang merata dan berkeadilan di Jawa Barat.
“Program beasiswa santri itu menjadi bukti bahwa Pemprov Jawa Barat telah melaksanakan amanat Undang-Undang Pesantren Nomor 18 Tahun 2019,” ujarnya.
Program Beasiswa Santri Jabar Juara yang digagas oleh Pemprov Jawa Barat bertujuan memberikan bantuan pendidikan kepada santri dari keluarga tidak mampu yang menempuh pendidikan di pondok pesantren. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban biaya pendidikan sekaligus mendukung keberlangsungan belajar para santri.
“Saya sangat mengapresiasi inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam meluncurkan program beasiswa santri ini. Ini merupakan bentuk nyata keberpihakan kepada lembaga pendidikan keagamaan dan anak-anak bangsa yang menimba ilmu di pesantren,” katanya.
Lillah menegaskan bahwa DPRD Jawa Barat, khususnya Komisi yang membidangi pendidikan dan keagamaan, akan terus mengawal jalannya program ini agar tepat sasaran dan berkelanjutan. Ia berharap agar proses penyaluran bantuan dilakukan secara transparan, serta melibatkan data yang akurat dari pesantren-pesantren di seluruh kabupaten/kota.
“Kami akan mendorong agar kuota beasiswa terus ditingkatkan tiap tahun. Jangan sampai ada santri yang tidak bisa melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi. Ini soal masa depan generasi dan masa depan bangsa,” tegasnya.
Selain mendukung program yang ada, Lillah juga berharap Pemprov Jabar dapat mengembangkan bentuk bantuan lainnya seperti pelatihan keterampilan untuk santri, digitalisasi pesantren, hingga pembinaan kewirausahaan berbasis pesantren. Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat.
“Beasiswa adalah langkah awal. Tapi ke depan, kita harus mendorong pesantren menjadi pusat transformasi sosial dan ekonomi umat. Maka dukungan tidak boleh berhenti hanya di bantuan pendidikan,” tuturnya.
Dengan dukungan berbagai pihak, Lillah optimistis bahwa program beasiswa santri dapat menjadi langkah strategis dalam membangun pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkarakter di Jawa Barat.***